Kamis, 23 Mei 2013

Manusia, Alam Semesta dan Agama

Manusia, Alam Semesta dan Agama
1.        Manusia, Alam Semesta, dan Agama
a.         Pendapat para Filosof tentang alam
}  Sejak lahir, manusia langsung berinteraksi dengan alam dan lingkungannya.
}  Perenungan tentang alam raya ini telah dimulai sejak sebelum masehi, yaitu zaman filsafat Yunani kuno, antara lain :
Ø Thales (625 – 546 SM), yang menduga bahwa alam raya ini berasal dari air. Menurutnya, air adalah pokok pangkal dari segala sesuatu yang ada dan akan berakhir serta kembali kepada air pula.
Ø Anaximandros (610 – 547 SM) salah seorang filosof murid Thales, berpendapat bahwa alam ini berasal dari sesuatu yang bernama “apeiron”, yaitu sesuatu yang tidak dapat dirupakan dengan apapun yang ada di alam raya ini.
Ø Anaximenes (585 – 528 SM) mengembangkan pikiran Anaximandros dengan menjelaskan bahwa barang yang merupakan asal alam raya ini adalah satu dan tidak terhingga, yaitu udara.
Ø Heraklitos (540 – 480 SM) mengemukakan bahwa unsur asal alam ini adalah api yang memiliki sifat dinamis, karena itu alam ini tidak ada yang tetap, semuanya bergerak dan terus bergerak.
Ø Parmenides (540 SM) menyatakan bahwa alam raya ini serba tetap dan segala yang bergerak itu hanyalah penglihatan hasil tipuan panca indra belaka.
Ø Empedokles (490 – 430 SM) memadukan pendapat-pendapat yang berkembang sebelumnya, yakni pandangan yang menyebutkan bahwa alam raya ini terdiri atas empat unsur, yaitu udara, api, air, dan tanah yang masing-masing memiliki sifat-sifat dingin, panas, basah, dan kering. Pikiran Empedokles ini banyak mempengaruhi pemikiran para ahli filsafat sampai abad ke 18.

b.        Pandangan Islam tentang Alam
}  Alquran menggambarkan penciptaan alam, melalui proses bertahap dan memerlukan waktu, firman Allah (Qs. Hud, 11 : 7) yang artinya :
“Dan Dialah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, adapun arasy-nya telah tegak pada             air untuk menguji siapa di antara kalian yang lebih tinggi amalnya.”
Ø Istilah enam hari (sittati ayyam) dalam ayat di atas bukanlah enam hari dalam arti sebenarnya sebagaimana perhitungan manusia, melainkan enam masa atau enam periode.
Ø Hal ini berarti alam diciptakan Allah secara bertahap dalam periode-periode tertentu.
Al-Quran memberikan konsep-konsep mendasar bagi pengetahuan tentang alam raya, misalnya :
}  QS. Ali Imran; 3 : 190
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta silih  bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang- orang yang berakal”.
}  QS. Al-Anbiya, 21 : 30
     “Apakah manusia-manusia yang ingkar itu tidak        menyaksikan (mengetahui) bahwa langit dan bumi (jagat raya ini) adalah sesuatu yang padu, kemudian Kami pisahkan keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada beriman?”
}  QS. Adz-Dzariyat, 51 : 47
     “Dan langit (samaa’) itu Kami bangun dengan kekuatan       dan sesungguhnya Kamilah yang meluaskannya”.
}  Dalam ayat (QS 21 : 30) di atas dijelaskan bahwa bumi dan langit adalah sesuatu yang padu.
}  Seorang ahli fisika: “Baiquni menemukan makna bahwa sekitar 15 milyar tahun yang lalu, alam semesta ini, energi materi (ardh = bumi) beserta ruang dan waktu (sama) keluar dari satu titik dengan kekuatan yang sangat dahsyat dan dengan temperatur yang sangat tinggi. Dengan demikian tidak ada suatu apapun yang lebih padu daripadanya.
}  Dalam ayat (QS. Al-Mulk 67 : 3 – 4)
     “Allah yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu tidak sekali-kali akan melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah itu sesuatu kepincangan (sesuatu yang tidak seimbang); maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu menampakkan sesuatu keretakan? Maka pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan suatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan lemah dan payah.”
}   Dalam QS. Ar-Rum, 30 : 22
     “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah        terciptanya      langit dan bumi, dan perbedaan bahasa dan warna kulitmu;     sungguh dalam hal ini terdapat tanda-tanda bagi orang yang berilmu”.
Ø Ayat di atas mengemukakan bahwa alam semesta ini berjalan dengan kokoh, teratur, rapi dan harmonis.
}  Alam dalam pandangan Islam adalah makhluk Allah yang diperuntukkan bagi manusia dan sebagai pendorong untuk menyelidiki fenomena yang terjadi di dalamnya.
Ø QS. Al-Anam, 6 : 165
     “Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan meninggikan sebagian dari kamu atas sebagian yang lain beberapa tingkat, untuk mengujimu atas apa yang telah          diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
}  Allah mengajarkan manusia untuk mengenal alam sekelilingnya dengan baik, dalam firman-Nya:
Ø QS. Yunus, 10 : 101
“ Katakanlah (wahai Muhammad) Perhatikanlah apa-apa yang ada di langit dan di bumi”.        
Ø QS. Ali Imran, 3 : 190 – 191
“ Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan   silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.
}  Proses alamiah (hukum alam), didalam Islam disebut ‘Sunnatullah’ adalah hukum-hukum Allah untuk alam semesta, seperti diungkapkan dalam QS. Fushshilat, 41 : 11 :
     “Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit, dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: Datanglah kamu keduanya menurut perintahKu dengan suka hati atau terpaksa, keduanya menjawab: Kami datang dengan suka hati.”
}   Alam raya ini seyogyanya didayagunakan dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan seluruh makhluk, QS. Al Jaatsiyah, 45 : 13:
     “Tuhan telah menundukkan bagimu apa saja yang ada di langit dan di bumi secara kesuluruhannya.”
c.         Manusia Menurut Agama Islam
1.        Asal Kejadian dan Potensi Manusia
Asal usul manusia dalam pandangan Islam tidak terlepas dari figur Adam sebagai manusia pertama. Adam adalah manusia pertama yang diciptakan Allah di muka bumi dengan segala karakter kemanusiaannya. Adam adalah manusia sempurna, lengkap dengan kebudayaannya sehingga diangkat sebagai khalifah di muka bumi, firman Allah dalam QS. Al-Baqarah, 2 : 30:
“Dan Ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata: Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di muka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah. Tuhan berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
}  QS. Al-Baqaroh, 2 : 31 – 33 :
“Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama segala benda, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat, seraya berfirman: Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu, jika kalian memang benar! Mereka menjawab: Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh Engkaulah yang Maha Mengetahui Lagi Maha Bijaksana. Allah berfirman: Hai Adam beritahukan kepada mereka nama-nama benda           ini. Setelah Adam memberitahukan nama benda-benda itu kepada mereka, Allah berfirman: Bukankah sudah Ku katakan kepada mu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi serta mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan”.
}  Proses penciptaan manusia selanjutnya melalui proses pencampuran bahan dari laki-laki dan perempuan :
Ø QS.Al-Mukminun, 23 : 12 :
     “ Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.”
Ø QS.Al-Mukminun, 23 : 13 :
     “ Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).”
Ø QS.Al-Mukminun, 23 : 14 :
     “ Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah Kami jadikan segumpal  daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Sucilah Allah, Pincipta yang Paling Baik.”
Dalam ayat yang lain Allah berfirman:
Ø QS.As-Sajdah, 32 : 8 – 9 :
     “ Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati   air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.”
}  Karena manusia berasal dari tanah, maka iblis tidak mau bersujud di hadapan manusia, firman Allah (QS.Shaad, 38 : 76) :
     “….. Iblis berkata:  Aku lebih baik dari padanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”
}  Tubuh memiliki daya yang bersifat fisik, seperti mendengar, melihat, mencium, merasakan dan memiliki daya gerak.Sedangkan Ruh atau jiwa (nafs), memiliki dua macam daya yaitu : daya pikir (akal) dan daya rasa yang berpusat di qolbu.
}  Rasa ada 3 macam, yaitu :
     - Rasa jasmani, seperti : manis, pahit, asin, asam, dsb.
     - Rasa Ruhani, seperti : senang, susah, gembira, sedih, dsb.
     - Rasa Nurani, seperti : rasa kemerdekaan, rasa ketuhanan, dsb.
}  Rasa ketuhanan (kecenderungan beragama) diungkapkan dalam firman Allah QS.Al-A’raf, 7 : 172):
     “ Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. Kami lakukan yang demikian itu agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya kami (bani Adam)  adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah).”
}  Islam mendorong manusia agar menggunakan potensinya secara seimbang :
Ø QS.Al-A’raf, 7 : 179 :
     “ Sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunaka untuk  memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”

2.        Manusia sebagai Khalifah dan ‘Abdullah
}  Khalifah berarti wakil atau pengganti yang memegang kekuasaan.
}  Sebagai wakil Tuhan, maka kepada manusia :
     - Diajarkan kebenaran-kebenaran dalam segala ciptaannya.
     - Diberikan wewenang berupa kebebasan memilih dan menentukan, sehingga dapat melahirkan kreatifitas yang dinamis.
     - Kebebasan manusia sebagai khalifah-Nya merupakan implementasi dari ketundukan dan ketaatan hanya kepada Allah.
}  Sebagai ‘Abdullah berarti hamba, yaitu orang yang ta’at dan patuh kepada perintah Allah.
Ø QS.Fathir, 35 : 39 :
            “ Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barang siapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya, dan kekafiran orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka.”
}  Dua tugas itu harus dijalan sedemikian rupa secara seimbang, sehingga melahirkan sifat-sifat terpuji. Sebaliknya ketidakseimbangan melahirkan sifat-sifat yang menyebabkan drajat manusia jatuh ke tingkat paling bawah :
Ø QS.Ath-Thin, 95 : 5 :
            “ Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-       rendahnya.”
Ø QS.Ali-Imran, 3 : 112 :
            “ Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali Allah dan tali manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi tanpa alasan yang benar.Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.”

D.   Agama: Arti dan Ruang Lingkupnya
       Apa yang dimaksud dengan Agama?
       Kata Agama’ dalam bahasa Indonesia berarti sama dengan kata:
       - Agama dalam bahasa Sangsekerta yang berarti ‘tetap di tempat’ = tidak pergi = diwarisi turun temurun
                        - Din dalam bahasa Arab dan Semit, yang berarti peraturan mengenai perintah dan larangan Tuhan  yang dibawa oleh utusan-Nya untuk seluruh manusia
            - Religion dalam bahasa Inggris, yang berarti kepercayaan.
            - Die religion dalam bahasa Jerman
       Ruang lingkup agama sebagai suatu sistem nilai meliputi :
}  Pertama, tata keyakinan atau credial, yaitu bagian dari agama yang paling mendasar berupa keyakinan akan adanya sesuatu kekuatan supranatural, Dzat Yang Maha Mutlak di luar kehidupan manusia.
}  Kedua, tata peribadatan atau ritual, yaitu tingkah laku dan perbuatan-perbuatan manusia dalam berhubungan dengan dzat yang diyakini sebagai konsekuensi dari keyakinan akan keberadaan Tuhan.
}  Ketiga, tata aturan, kaidah-kaidah atau norma-norma yang mengatur hubungan manusia dengan manusia, atau manusia dengan alam lainnya, sesuai dengan keyakinan dan peribadatan tersebut.
       Mengapa manusia perlu beragama?
       Manusia adalah makhluk yang paling unik, dijadikan dalam bentuk yang sangat baik, ciptaan Tuhan yang paling sempurna. QS: 95; 4 yang perlu diSyukuri “Sesungguhnya Kami telah menjadikan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.
       Potensi yang dimiliki manusia tidak mampu menjawab semua problematika yang datang pada dirinya. Potensi tersebut terdiri dari:
ü Badan (raga)
ü Rohani, yang meliputi
q  Akal
q  Rasa
q  Kepercayaan

Review My Blog

Video FSLDKN